Di Tempat Kerja, Siapa yang Harus Punya Daya Tahan?
Banyaknya kesulitan yang muncul di tempat kerja sering menimbulkan pertanyaan: siapa yang paling banyak membutuhkan resiliensi, atau dengan kata lain, kemampuan untuk menghadapi tantangan dan bangkit dari kegagalan?
Apakah perusahaan sebagai satu kesatuan? Orang-orang dengan jabatan yang lebih tinggi? Atau para karyawan yang bertugas secara operasional?
Kenyataannya, semua membutuhkan resiliensi. Ini merupakan tanggung jawab bersama. Perusahaan perlu menjaga alur kerja dan ketersediaan sumber daya untuk mengurangi tekanan-tekanan yang tidak perlu, agar para karyawan memiliki resiliensi yang lebih baik dalam menjalankan tugasnya. Karyawan perlu mengenali batasan dan potensi pribadi dalam bekerja, agar perusahaan dapat bertahan melalui masa-masa sulit.
Resiliensi tidak bisa berkembang dengan sendirinya. Faktor-faktor seperti kebijakan perusahaan yang mengutamakan kesejahteraan karyawan dan partisipasi aktif dari karyawan untuk mengembangkan kapasitas diri sangat berpengaruh dalam peningkatan resiliensi bersama.
Menerjemahkan pengembangan resiliensi ke dalam program atau kebijakan perusahaan dapat dimulai dari kesadaran sederhana, bahwa: resiliensi adalah sebuah proses pertumbuhan, bukan karakter bawaan yang sifatnya permanen.
Referensi:
Hollaar, M. H. L., Kemmere, B., Kocken, P. L., & Denktas, S. (2025). Resilience-based interventions in the public sector workplace: a systematic review. BMC Public Health, 25(350). https://lnkd.in/diZsCtKX.



