Tiga Cara Menemukan Makna Hidup

Diunggah pada 07 September 2026
Bayangkan Anda telah berkontribusi pada masyarakat, menjalani hidup yang lurus, dan mengabdikan hidup Anda untuk karya yang membantu banyak orang. Kemudian tanpa sebab yang jelas, nasib melempar Anda pada kemalangan luar biasa. Semua karya dan pencapaian Anda dibuang ke tempat sampah, penderitaan tak berperi ditimpakan pada Anda, tanpa ada yang mengulurkan bantuan atau belas kasihan.
Demikian kurang lebih yang dialami Viktor Frankl, seorang psikiater asal Austria yang juga penyintas kamp konsentrasi Nazi. Pada medio 1920-1930an, ia adalah intelektual terkemuka di bidang psikiatri dan telah membantu masyarakat luas di bidang kesehatan mental. Ia terkenal atas gagasannya mengenai logotherapy, aliran psikoterapi yang memandang kehendak untuk mencari makna adalah motivator utama manusia.
Namun ketika Perang Dunia kedua pecah, ia ditangkap rezim Nazi dan dijebloskan ke kamp konsentrasi. Selama dua tahun di kamp, Frankl mengalami dan menyaksikan berbagai kekejaman dan perlakuan tak manusiawi kepada para tahanan.
Frankl bisa saja jatuh dalam keputusasaan, ketika segala prestasi dan kontribusinya pada masyarakat dicampakkan begitu saja. Bisa saja ia merasa segala yang diusahakan tak ada gunanya karena pada akhirnya penderitaan bisa menimpa secara acak. Namun bukan itu yang terjadi pada Frankl dan karena itulah ceritanya kemudian menginspirasi banyak orang.
Dari pengalamannya di kamp konsentrasi, Frankl mengamati adanya hal yang membedakan antara tawanan yang tetap tabah dengan mereka yang putus asa dan kemudian gugur. Ia menemukan sebuah pola di mana tahanan yang memiliki makna dalam hidupnya cenderung mampu bertahan di tengah berbagai penderitaan yang dialami di dalam kamp. Lantas jika makna hidup sangat penting bagi eksistensi manusia, lalu bagaimana cara menemukannya? Frankl dalam bukunya yang bertajuk "Man’s Searching for Meaning" mengusulkan bahwa makna hidup dapat ditemukan dalam tiga hal.
Pekerjaan atau Perbuatan
Makna hidup dapat ditemukan dari pencapaian atau keberhasilan. Dapat pula dengan berbuat sesuatu yang ingin dilakukan, mengerjakan hal yang memberikan kepuasan batin, serta melaksanakan kewajiban sehari-hari. Frankl memandang manusia dapat memilih tugas apa yang hendak ia tunaikan. Makna tidak hanya dapat dipetik dari hasil perbuatan, namun juga dapat berupa pelaksanaan perbuatan itu sendiri. Makna itu pula yang membuat Frankl menolak menyerah ketika ditahan di kamp konsentrasi. Ia merasa ada tugas yang menunggunya di luar kamp, yakni menyampaikan gagasan mengenai logotherapy kepada lebih banyak orang.
Melalui Pengalaman atau Seseorang
Pengalaman dapat memberikan makna melalui kebaikan, kebenaran, maupun keindahan yang dirasakan sehari-hari. Menurut Frankl, pengalaman-pengalaman yang bermakna dapat menjadi penawar ampuh dari keputusasaan saat kita kelak meninjau kembali kehidupan di masa tua. Hal itu juga dapat menyelamatkan manusia dari kehampaan eksistensial atas ketidakkekalan hidup. Alih-alih merasa sedih karena meratapi waktu yang berlalu dan sisa hidup yang menipis, orang tersebut dapat melihatnya dengan sudut pandang lain. Ia dapat menoleh kembali, memandang hari-hari yang telah berlalu, dan menyadari berbagai pengalaman bermakna yang telah dialami. Makna hidup juga dapat diperoleh dengan mengenal manusia lain, dengan mengalami segala keunikan dari orang lain, serta dengan mencintai orang lain. Ketika disiksa di kamp konsentrasi, angan untuk bertemu kembali dengan istri dan keluarga yang ia cintai memberi makna bagi Frankl untuk bertahan. Sekalipun akhirnya harapan tersebut pupus, ikatan itu pernah memberi Frankl minat untuk melanjutkan hidup.
Menyikapi Penderitaan yang Tak Terhindarkan
Kebebasan terbesar manusia adalah kebebasan dalam menyikapi apa yang terjadi dalam hidupnya. Kebebasan itulah yang memungkinkan manusia mengambil makna dari penderitaan; tepatnya dalam menyikapi penderitaan yang tak dapat dihindari. Frankl menggarisbawahi kalau penderitaan tidak harus dicari-cari untuk memperoleh makna hidup. Sengaja cari-cari derita bukanlah tindakan heroik, melainkan bentuk menyiksa diri. Oleh sebab itu, penderitaan yang dibahas adalah penderitaan yang tak terhindarkan. Makna dapat ditemukan dalam penderitaan melalui perspective taking, melalui mengubah sikap dalam menghadapi kemalangan yang tak dapat diubah. Frankl percaya bahwa manusia memiliki kebebasan untuk menyikapi situasi hidupnya, termasuk menemukan makna di balik penderitaan. Terkadang, manusia bahkan siap untuk menderita selama ia yakin bahwa setiap penderitaanya memberinya makna.
Demikianlah jalan yang diusulkan Frankl untuk memperoleh makna hidup. Orang sering mengira bahwa makna hidup haruslah luhur dan besar. Kita tidak harus memiliki makna yang tampil perkasa di hadapan semesta yang luas, juga tak harus mengukir sejarah agar abadi. Makna hidup yang spesifik dan sederhana tetaplah layak untuk diperjuangkan. Bisa berasal dari dari kepuasan menunaikan kewajiban harian, dari keindahan akan seni maupun alam di sekitar kita, dapat pula dari keberadaan orang-orang yang kita cintai dan ingin lindungi, bahkan juga dari penderitaan yang kebetulan tengah melanda.
Referensi: Frankl, V. E. (2017). Man’s searching for meaning. Jakarta: Noura.



