Transforming Our Resolution Into Real Habit

Di awal tahun, kita (baik sebagai individu atau kelompok) biasanya membuat target atau sasaran yang ingin diraih pada tahun yang akan kita jalani. Target atau sasaran ini, biasanya kita sebut sebagai RESOLUSI. Resolusi yang kita tetapkan bisa terkait dengan aspek apapun; kesehatan, keuangan, pendidikan, pekerjaan, keluarga, relasi dan sebagainya. Isi dari resolusi biasanya merupakan peningkatan kemampuan diri, aspek kehidupan yang lebih baik ataupun hal yang berkembang lebih positif dari tahun sebelumnya.
Memiliki resolusi untuk diraih pada periode tertentu merupakan hal yang wajar. Jika mengacu pada self determination theory (salah satu pendekatan dalam mempelajari motivasi manusia), kita sebagai individu diyakini sebagai makhluk yang aktif, dengan kecenderungan untuk bertumbuh, menghadapi tantangan dan mengintegrasikan pengalaman baru dalam cerminan diri (selfdeterminationtheory.org). Kita dimaknai sebagai makhluk yang pada dasarnya mampu untuk terus berkembang dan menghadapi tantangan yang ada di kehidupan kita. Oleh karenanya, wajar jika kita memiliki keinginan untuk meraih sasaran, target atau resolusi di tahun yang akan kita jalani.
Pada perjalanan untuk meraih resolusi ini, kita bisa transformasikan upaya – upaya yang kita lakukan menjadi satu atau serangkaian kegiatan yang kita lakukan secara rutin. Lama – kelamaan kegiatan rutin ini dapat berkembang menjadi suatu kebiasaan, bahkan mungkin bisa kita lakukan dengan senang hati. Jika kebiasaan ini kita lakukan dengan konsisten, bisa jadi kita tidak hanya berhasil meraih resolusi tahun ini, tapi juga bisa mempertahankannya dalam jangka waktu yang lebih panjang.
Untuk mentransformasikan resolusi menjadi suatu kebiasaan, hal pertama yang bisa kita lakukan adalah menguraikan resolusi menjadi satu atau lebih kegiatan kongkret yang bisa diri kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, kita menetapkan bahwa resolusi pada tahun ini adalah adalah menjadi pribadi yang lebih sabar. Kita bisa mentransformasi "sabar" menjadi kegiatan
Ketika kita merasa kesabaran mulai menipis, berhenti melakukan apapun dan tarik nafas dalam 3x.
Ketika mulai merasa marah, minum satu gelas air.
Ketika marah pada sesorang dan ingin menyampaikannya, mulai dengan menyampaikan emosi yang kita rasakan dan diakhiri dengan hal yang kita harapkan untuk orang lain lakukan.
Contoh lainnya, jika kita menetapkan resolusi di tahun ini adalah menjadi pribadi yang lebih sehat, maka kita bisa trasformasikan menjadi kegiatan:
Minum air putih minimal 1.5 liter setiap hari
Makan makanan yang digoreng maksimal tiga kali dalam seminggu.
Olahraga minimal tiga puluh menit, minimal dua kali dalam seminggu.
Daftar kebiasaan ini dapat kita tuliskan dan sesuaikan sesuai dengan situasi dan prediksi kemampuan kita untuk menjalankannya. Menetapkan kegiatan yang terlalu ideal bisa jadi membuat kita menjadi pesimis dan kurang bersemangat untuk melakukannya, dan ketika kita gagal melakukannya dalam suatu periode tertentu, biasanya kita menjadi lebih mudah untuk berhenti.
Pada awalnya, kita mungkin merasa kesulitan untuk menjalankan suatu kegiatan baru, apalagi jika kita merasa bahwa kegiatan tersebut tidak menyenangkan. Hal ini merupakan hal yang normal dan wajar. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk menghadapinya adalah dengan fokus pada hal yang bisa kita kendalikan. Resolusi akan lebih sulit kita raih jika kita fokus pada hal-hal eksternal yang tidak bisa kita kendalikan. Kita tentu saja tidak bisa mengontrol kapan akan turun hujan. Hal yang bisa kita kendalikan adalah menjaga diri kita agar tidak kehujanan dengan cara membawa payung atau jas hujan. Akan lebih baik jika kita menelusuri dan memetakan kekuatan dan sumber daya diri yang kita miliki dan dapat kita gunakan untuk menajalankan kebiasaan baru kita.
Cara lain untuk membantu kita konsisten dengan kebiasaan baru adalah mempersilakan diri kita untuk menjalankan kegiatan – kegiatan baru dengan adanya reward. Reward tidak hanya dapat berupa materi atau barang dalam bentuk fisik, tapi bisa juga dalam bentuk apresiasi diri. Maknai diri kita sebagai seseorang yang telah berhasil mencapai suatu target kecil. Reward mungkin dihayati sebagai bentuk motivasi ekstrinsik, tapi hal tersebut bukan selalu berarti hal yang buruk. Pada awalnya kita mungkin memerlukan reward untuk membantu kita bersemangat menjalankan kebiasaan baru, namun seiring berjalannya waktu, kita bisa secara perlahan menginternalisasi makna dari kebiasaan baru tersebut sebagai bagian diri kita. Lambat laun, bisa jadi kita menghayati kebiasaan baru itu sebagai hal yang menyenangkan.
Meraih resolusi dan menjadikannya sebuah kebiasaan bisa diibaratkan seperti lari marathon, dengan garis finish yang jauh di depan mata. Kita perlu mengatur energi agar tidak kehabisan tenaga di tengah jalan. Layaknya marathon, perjalanan perlu dilakulan langkah demi langkah secara konsisten. Mengembangkan kebiasaan baru bukanlah situasi gawat darurat yang menuntut kita untuk cepat bertindak. Ini merupakan perjalanan yang memerlukan ketekunan. Jangan lupa, kita adalah individu berdaya dengan kemampuan untuk mengembangkan diri. Jangan patah semangat ketika kita sempat lupa atau malas untuk meraih resolusi kita. Mulai kembali dan teruskan.



